Share This Article
Menyiapkan media pembelajaran di tengah padatnya jadwal mengajar bukan perkara mudah bagi para guru. Padahal, banyak materi yang membutuhkan ilustrasi visual agar murid dapat paham dengan cepat.
(NOTIS.id): Peran materi visual ini makin penting saat sekolah mulai memanfaatkan papan interaktif digital atau Interactive Flat Panel (IFP). Perangkat canggih ini tentu butuh dukungan sumber belajar yang tepat agar fungsinya maksimal.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) mengembangkan platform Rumah Pendidikan. Layanan ini menyediakan sekitar 6.000 sumber belajar yang bebas dipilih guru sesuai kebutuhan kelas.
Namun, belum semua guru dan murid mengenal platform tersebut. Pemerintah baru menerapkan pada beberapa sekolah percontohan.
Keberhasilan digitalisasi pembelajaran bukan diukur dari seberapa banyak aplikasi yang kita gunakan, melainkan dari seberapa besar teknologi tersebut membantu guru mengajar dengan lebih baik dan membantu peserta didik belajar dengan lebih bermakna.
Rumah Pendidikan sendiri berisi berbagai konten yang berasal dari gotong royong penyedia konten, guru, dan masyarakat. Mitra seperti Pesona Edu dan Assemblr Edu menyumbangkan materi yang sebelumnya dijual secara komersial.
Guru juga bisa mengirimkan video pembelajaran buatan sendiri yang nantinya ditayangkan setelah lolos kurasi. Dengan demikian Rumah Pendidikan bukan merupakan milik Pusdatin atau Kemendikdasmen, melainkan milik semuanya.
Pusat Data dan Teknologi Informasi (Pusdatin) Kemendikdasmen mengenalkan pemanfaatan platform ini dalam bentuk kemasan kegiatan bertema Hari Belajar Lebih Menyenangkan dengan Ruang Murid.
Pada momen ini dilakukan simulasi rekomendasi pembelajaran untuk guru, serta eksplorasi laboratorium maya dan gim edukasi bagi siswa.
Solusi Beban Mengajar dan Kebutuhan Media Visual
Seperti banyak dialami guru, ada banyak waktu yang dihabiskan untuk mengajar. Dengan keberadaan Rumah Pendidikan yang menyediakan banyak pilihan materi siap pakai akan sangat membantu guru agar tidak perlu selalu membuat media ajar dari nol.
Di sisi lain, murid pada sekolah percontohan merespon positif. Mereka menyukai fitur belajar interaktif di Ruang Murid yang membuat pemahaman materi jadi lebih menyeluruh.
Pengalaman penerapan Rumah Pendidikan pada sekolah percontohan menunjukkan dua kebutuhan utama, yakni guru butuh sumber belajar yang praktis, sedangkan murid mencari materi yang menarik.
Lewat Sapa Sekolah 2026, Kemendikdasmen mendorong sekolah agar tidak sekadar mengenal platform ini, tetapi aktif menggunakannya dalam kegiatan belajar sehari-hari. (Sumber: Kemendikdasmen)

