Share This Article
Di balik lembar badai. Bagaimana luka melahirkan sebuah karya.
(NOTIS.id): Bagi sebagian orang, rasa sakit adalah akhir cerita. Namun bagi saya, Herdia Tafana Esa Ayu Dita siswi SMAN 1 Gunung Terang, Tulang Bawang Barat, luka justru menjadi kompas yang menuntun jalan.
Sebagai seorang pelajar yang sehari-hari disibukkan dengan tanggung jawab memimpin organisasi OSIS di sekolah dan mengajar mengaji, saya tidak pernah menyangka kalau air mata terberat dalam hidup saya justru akan menjelma menjadi sebuah buku fisik yang kini didekap oleh pembaca.
Garis takdir membawa saya menyusuri lorong sunyi literasi, melahirkan sebuah buku. Novel ini lahir dari puing-puing titik terendah. Sebuah fase ketika lingkaran pertemanan yang disangka “rumah”, justru menjelma duri terdalam.
Saat pencapaian saya dianggap kemalangan oleh orang terdekat, lahirlah sebuah kalimat mentah dari lubuk hati yang paling jujur, “Ternyata bahagiaku adalah musibah bagi beberapa orang”.
Melalui tokoh Senja, saya mulai menenun setiap jengkal kekecewaan. Proses kepenulisan buku ini bukanlah perjalanan yang mudah. Di tengah tumpukan tugas sekolah dan rapat organisasi, saya harus mencuri waktu malam yang sunyi untuk mengumpulkan kata demi kata.
Dimulai dari target kecil ribuan kata di bab-bab awal, hingga akhirnya genap menjadi sebuah naskah utuh yang siap meluncur ke dunia. Saya ingat, ketika itu kisaran 2 Juni 2026 atau selang 1,5 bulan dari awal menulis.
Semesta seolah ikut menggelar jalan kemudahan saat proses pencarian penerbitan dimulai, hingga akhirnya buku ini resmi menyapa para pembaca melalui Teori Kata Publishing pada 28 Juli di tahun yang sama.

Pengkhianatan dan Rasa Syukur
Buku “Bahagiaku Adalah Musibah bagi Beberapa Orang” bukan sekadar drama fiksi biasa. Di dalamnya, saya sengaja menyelipkan banyak ruang perenungan. Salah satunya tertuang dalam kutipan yang paling sering diingat, “Ada luka yang tidak datang untuk menghancurkan kita, tetapi justru mengembalikan kita pada diri sendiri yang sempat hilang”.
Ada pula sebuah bab berjudul “Nama yang Tidak Lagi Sama”, sebuah metafora tentang bagaimana sebuah nama yang dulu terdengar hangat, kini harus diikhlaskan menjadi asing demi ketenangan jiwa.
Lewat ruang perenungan ini pula, saya ingin berbisik kepada teman-teman generasi saya (Gen Z) yang tengah bertarung dengan badai mental health, di mana menjaga kesehatan mental bukan berarti kita harus selalu terlihat kuat, melainkan berani jujur pada luka sendiri, tegas memberi batasan (setboundaries) pada lingkungan yang beracun, serta menolak membiarkan opini orang lain mendikte nilai diri kita.
Namun, di atas semua pekatnya pengkhianatan yang ditulis di lembar-lembar buku tersebut, hidup selalu menyisakan ruang untuk rasa syukur.
Melalui tulisan ini, saya ingin menyelipkan sebaris terima kasih yang tak terhingga untuk sebuah jiwa yang selalu ada. Sosok support system yang kehadirannya menjadi oasis hangat di tengah badai, mengingatkan saya bahwa diri ini berharga dan layak untuk bahagia saat seluruh dunia terasa runtuh.
Kini, sosok Senja telah melangkah jauh. Melalui novel ini, harapan terbesar saya adalah mampu mendekap jiwa-jiwa yang tengah merasa asing di lingkungannya sendiri.
Dunia perlu membaca kisah ini untuk memetik satu pelajaran mahal, kita tidak bisa memaksa hati orang lain untuk tulus, tetapi kita punya kuasa penuh atas bagaimana kita merespons rasa sakit tersebut.
Balas dendam terbaik bukanlah dengan ikut menjadi jahat, melainkan dengan melangkah naik kelas melalui prestasi dan karya abadi.
Buku ini adalah pembuktian tegas bagi masa lalu, jika hari ini bahagiaku adalah musibah bagi beberapa orang maka esok hari, kesuksesanku adalah takdir indah yang tidak akan pernah bisa mereka hentikan.(*)

