Share This Article
Menyadari besarnya peran literasi bagi peningkatan kualitas pelajar, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Lampung menggelar lomba penulisan bagi pelajar SMA/SMK (negeri dan swasta) se-Provinsi Lampung.
(NOTIS.id): Lomba penulisan dikerucutkan dalam bentuk Menulis Surat Kepada Gubernur Lampung. Pendaftaran berlangsung sejak 19 sampai 31 Oktober 2026. Para pendaftar tidak dipungut biaya alias gratis dan Disdikbud menyediakan hadiah tabanas total belasan juta rupiah bagi para pemenang.
Langkah menyemarakkan budaya literasi di kalangan pelajar ini mestinya disambut antusias oleh seluruh pendidik dan pelajar SMA/SMK di Lampung. Apalagi bila memperhitungkan jumlah sekolah yang mencapai ratusan. Atau jumlah total pelajar SMA/SMK yang menyentuh angka ratusan ribu banyaknya.
Hingga tenggat waktu pendaftaran ditutup, naskah peserta lomba yang masuk tercatat mencapai kisaran 1.200 surat. Angka tersebut memiliki makna ganda. Bisa dilihat sebagai angka yang relatif kecil bila dikomparasi dengan jumlah sekolah dan siswa SMA/SMK se-Lampung.
Namun, dari perspektif lain, dapat pula dimaknai sebagai langkah awal yang baik dalam mengkampanyekan budaya literasi di kalangan pelajar.
Beberapa juri dari lima juri lomba Penulisan Surat Kepada Gubernur Lampung yang merupakan jurnalis pegiat literasi pelajar angkat bicara mengomentari hal tersebut.
“Kita bisa membahasnya dari kedua sudut pandang itu. Hanya saja, apa pun jawaban dari pembahasannya, ada benang merah yang bisa ditarik, bahwa budaya literasi harus konsisten diperkenalkan dan didekatkan dengan para pelajar,” kata Juniardi, salah satu tim juri lomba penulisan surat, Kamis (5 November 2026).
Sementara juri lainnya, Fajar Arifin, turut menguatkan pandangan Juniardi. Dikatakannya, masih ada pekerjaan rumah (PR) besar untuk mengkampanyekan budaya literasi pada kalangan remaja SMA/SMK.
“Dari naskah surat yang masuk bisa dijadikan semacam jendela untuk melihat kondisi literasi pada generasi Z. Kalau mau obyektif, upaya menghidupkan budaya literasi di sekolah tidak dapat dilakukan secara parsial. Mengingat masih rendahnya pemahaman literasi di kalangan para remaja,” ungkap Fajar.
Gagal Paham
Adi Pranoto, juri lainnya, juga berpendapat serupa. “Saya melihat untuk memahami ketentuan perlombaan saja, tidak sedikit peserta lomba yang masih gagal paham. Karena keliru memahami ketentuan, maka tak heran kalau naskah surat yang dibuat pada akhirnya juga menyimpang dari rambu-rambu yang digariskan,” katanya.
Setali tiga uang dengan pendapat juri lainnya, Hendri Std mengatakan, kondisi literasi di kalangan pelajar, khususnya, siswa SMA/SMK di Lampung harus ditangani secara komprehensif.
“Tahun lalu kami punya pengalamanan 5 bulan penuh berinteraksi langsung dengan para pelajar dalam kontek membina literasi siswa. Kita bina siswa perwakilan tiap sekolah untuk belajar menulis berita, feature dan esai,” terang Hendri Std.
Hasilnya, sambung dia, cukup antusias. Banyak tulisan dihasilkan siswa. Namun tahun ini para siswa binaan itu sudah duduk di kelas XII. Orientasi mereka sudah fokus mempersiapkan diri pada ujian.
Maka, tak heran kalau kepesertaan lomba menulis surat kepada Gubernur Lampung kali ini mayoritas pesertanya dari pelajar kelas X dan XI dengan pemahaman terhadap literasi masih sangat beragam.
“Keseragaman persepsi ini juga terlihat dari respon kepala sekolah dan guru. Pemahaman para pendidik akan arti penting literasi belum merata, untuk tidak menyebut masih rendah. Akhirnya siswa yang masih minim pemahaman literasinya harus berjuang sendiri tanpa bimbingan para pendidik. Itu karena pendidiknya pun tak memahami literasi,” tutup Hendri Std.(*)

