Share This Article
Panggung Taman Budaya Lampung bersinar terang di hadapanku. Bagi sebagian orang, tempat itu mungkin biasa saja. Namun, bagiku panggung tersebut adalah impian masa kecil yang akhirnya mewujud nyata.
(NOTIS.id): Sejak kecil saat menonton film, aku yang diberi nama Rara Fitri Aulia dan kini menjadi siswi SMAN 5 Bandar Lampung, selalu membayangkan berdiri di atas panggung, memainkan peran, lalu disaksikan banyak pasang mata.
Langkah ini bermula dari pentas SMANLA Got Talent. Saat itu kelas kami menampilkan teater bertema perjuangan perempuan dan pribumi untuk memperingati Hari Pahlawan.
Kiranya pertunjukkan itu membuka jalan. Hingga Iren, Ketua Teater Anarta, mengikutkanku dalam Festival Teater Pelajar Lampung.
Aku diberi peran sebagai Nadine Manula. Keraguan sempat datang. Waktu latihan terbilang singkat dan aku meragukan kemampuan diri sendiri.
Berbagai pertanyaan terus menghantui pikiran. Beruntung, dorongan keluarga serta teman dekat menguatkan langkahku. Kepercayaan diri tumbuh perlahan hingga aku lolos seleksi pemeran. Perjalanan baru pun resmi dimulai.
Mewujudkan Impian
Dunia seni pertunjukan sejatinya bukan hal asing bagiku. Aku menyukai olah tubuh, ekspresi, hingga seni berbicara di depan umum. Pengalaman menari, bercerita, monolog, serta debat sudah pernah aku jalani.
Namun, mengarungi seni teater secara utuh menjadi tantangan baru untuk keluar dari zona nyaman. Harapan itu akhirnya terwujud pada Sabtu (4 April 2026) silam.
Banyak penonton menilai karakter Nadine Manula melekat kuat dalam diriku. Apresiasi itu tentu menghangatkan hati.
Meski begitu, proses di balik layar menyimpan perjuangan panjang. Aku harus menata vokal, mengolah gerak tubuh, menjaga intonasi, hingga menguasai pergerakan panggung.
Hal yang semula terlihat sederhana, ternyata menuntut konsistensi latihan yang tidak singkat.
Proses latihan diwarnai kesalahan dan pengulangan tanpa henti. Dari sana aku belajar bahwa kemampuan dibentuk oleh usaha keras serta kesabaran.
Setiap hari aku melatih diri, menerima masukan, dan mencoba lagi tanpa henti. Keraguan perlahan terkikis, berganti keyakinan untuk menaklukkan tantangan.
Saat yang dinanti pun tiba. Aku berdiri tegak di panggung Taman Budaya membawa karakter yang telah diperjuangkan. Seluruh energi kucurahkan dalam penampilan tersebut.
Usai pertunjukan, rasa lega dan bahagia membuncah. Angan-angan masa kecil resmi berdiri di atas kenyataan. Pengalaman ini mengajarkan arti kemenangan yang sesungguhnya.
Kemenangan bukan sekadar piala atau penghargaan. Kemenangan adalah keberanian menundukkan rasa takut dan melampaui keraguan diri. Panggung Taman Budaya menjadi saksi lahirnya keberanian baru dalam diriku.
Suatu hari nanti, aku mungkin akan berdiri di panggung lain dengan peran yang berbeda. Namun, kenangan menjadi Nadine Manula akan selalu tersimpan rapi.
Di panggung itulah aku tidak hanya belajar memerankan orang lain, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang lebih berani.(*)

