Share This Article
Disaat usia lazimnya menjadi batasan seseorang untuk menimba ilmu, Griya Al-Qur’an justru menampilkan warna berbeda. Di tempat ini, banyak dijumpai orang dewasa, orang tua, hingga lansia yang tetap antusias belajar membaca Al-Qur’an.
(Notis.id): Berangkat dari keprihatinan terhadap tingginya angka buta huruf Al-Qur’an di Indonesia, Griya Al-Qur’an resmi didirikan pada tahun 2007 sebagai wadah edukasi, tahsin, dan tahfiz yang fleksibel bagi semua kalangan, dari orang dewasa hingga anak-anak.
Lembaga ini diinisiasi oleh sekelompok masyarakat yang memiliki kepedulian terhadap rendahnya tingkat literasi Al-Qur’an, khususnya di kalangan orang dewasa. Titik awal berdirinya lembaga ini berada di Sidoarjo dan Surabaya.
Seiring berjalannya waktu, Griya Al-Qur’an berkembang pesat dan memiliki cabang serta mitra di berbagai kota besar, termasuk Jakarta, Bandung, Banjarmasin, hingga Lampung.
Khusus untuk cabang Lampung, awal mula pendiriannya berawal dari keresahan mantan Gubernur Lampung, Sjachroedin Zainal Pagaralam di mana rumahnya di Bandar Lampung ketika itu sempat kosong selama beberapa tahun.
Ia meminta salah satu keluarganya dari Surabaya yang pernah mengikuti program Griya Al-Qur’an untuk mendirikan cabang lembaga tersebut di Lampung. Setelah berdiskusi dengan pengurus pusat di Surabaya, Griya Al-Qur’an Lampung resmi dibuka pada tahun 2016.
Sistem Sandi
Dalam menjalankan proses pembelajarannya, Griya Al-Qur’an menerapkan metode khusus yang dinamakan Metode Griya Al-Qur’an.
Metode ini menggunakan mushaf Rasm Utsmani atau Al-Qur’an Madinah serta mengaplikasikan sistem sandi, semacam panduan tanda baca praktis berupa simbol-simbol khusus untuk membantu membaca tajwid. Tujuannya untuk mempermudah proses belajar peserta.
Manajer Cabang Griya Al-Qur’an Lampung, Ustazah Ulwiyatul Unza, atau yang akrab disapa Ulya mengungkapkan bahwa kelas pembelajaran di lembaganya disesuaikan secara bertahap dengan kemampuan masing-masing peserta.

“Kelas pembelajaran di Griya Al-Qur’an kami sesuaikan dengan kemampuan para peserta yang dimulai dari tingkat tahsin, tartil, sampai tingkat tilawah dan kelas tahfiz,” ujarnya, ketika ditemui di lokasi Griya Al-Qur’an Lampung, di Jalan Prof. Yamin, Enggal, Bandar Lampung.
Untuk tingkat tahsin, lanjutnya, materi dimulai dari tingkat 1, 2, dan 3 yang berfokus pada perbaikan dasar pelafalan huruf.
Sementara itu, pada tingkat tartil, peserta mulai mendalami penerapan ilmu tajwid secara lebih mendalam, seperti hukum bacaan nun mati, mim mati, idgham, ikhfa, serta ketukan tempo dan kelancaran membaca Al-Qur’an sesuai kaidah.
Adapun pada tingkat tilawah, peserta mempelajari buku ghorib (buku panduan yang mempelajari tentang kata-kata asing atau bacaan khusus seperti imamah, isymam, dan saktah) serta makhraj atau sifat-sifat huruf.
Selain itu, tersedia pula kelas tahfiz yang dikhususkan bagi peserta yang telah lulus dari kelas tahsin, tartil, dan tilawah sehingga diperbolehkan untuk mulai menghafal Al-Qur’an.
Untuk mendukung proses ini, Griya Al-Qur’an menyediakan modul khusus di setiap jenjang kelasnya, seperti buku panduan tajwid untuk kelas tahsin, buku ghorib untuk kelas tilawah, hingga buku hafalan per juz dan kitab 30 juz untuk kelas tahfiz.
Pembagian Kelas
Dalam aspek operasional, Griya Al-Qur’an Lampung didukung oleh lima sumber daya manusia (SDM) yang terdiri atas akademisi, ustadz, dan ustadzah, di bawah kepemimpinan Direktur Dr. Bairus Salim, yang juga merupakan dosen UIN Jurai Siwo Lampung.
Saat ini, peserta didik yang mengikuti kelas di cabang Lampung sebanyak 80 orang. Mereka berasal dari berbagai latar belakang dan lapisan usia. 50 peserta dari kalangan anak-anak dan remaja, sedangkan 30 lainnya dari usia lanjut.
Waktu belajar yang ditawarkan pun cukup fleksibel karena terbagi menjadi empat sesi, yakni kelas pagi pukul 08.00 hingga 09.30, kelas siang pukul 09.30 hingga 11.00, kelas sore pukul 16.00 hingga 17.30, serta kelas malam pukul 18.45 hingga 20.15.
Untuk kelas anak-anak hingga remaja dijadwalkan pada hari Rabu, Kamis, dan Jumat dengan pilihan sesi sore dan malam. Sedangkan kelas dewasa dilangsungkan dari Senin sampai Kamis.
Ulya juga menceritakan bagaimana semangat para orang tua dan orang dewasa di Griya Al-Qur’an kerap memberikan kesan mendalam baginya. Bahkan, terdapat salah satu peserta berusia 80 tahun. Ibu Endarti namanya.
“Ibu Endarti selalu datang lebih awal. Kita mulai kelas jam 8, dia sudah datang di lokasi sejak jam 7. Semangat belajarnya terkadang membuat saya minder, bahkan menjadi pengingat bagi saya dan teman-teman untuk selalu semangat dalam mempelajari Al-Qur’an,” pungkasnya seraya tersenyum.(*)

