Kukar, Notis.id – Kesadaran politik masyarakat, khususnya generasi muda yang akan menggunakan hak pilih untuk pertama kalinya pada pemilu mendatang, menjadi salah satu yang mendapat atensi pembahasan dalam kegiatan Penguatan Demokrasi Daerah yang digelar Ketua Fraksi PDI Perjuangan DPRD Kalimantan Timur, Muhammad Samsun, di Pondok Pesantren Hidayatullah Loa Kulu, Kutai Kartanegara, Jumat malam, 10 April 2026.
Kegiatan bertema “Literasi Politik untuk Kemajuan Demokrasi Daerah” itu menghadirkan Komisioner KPU Kutai Kartanegara, Wiwin, sebagai narasumber. Forum ini menekankan pentingnya pendidikan politik bagi masyarakat agar tidak hanya menggunakan hak pilih, tetapi juga memahami makna dan tanggung jawab di balik pilihan politiknya.
Muhammad Samsun mengatakan, pemilih pemula perlu mendapat perhatian serius karena mereka akan menjadi bagian penting dalam menentukan arah demokrasi ke depan. Menurutnya, generasi muda harus dibekali pemahaman politik yang baik agar tidak mudah terpengaruh hoaks, informasi menyesatkan, maupun praktik politik yang tidak sehat.
“Literasi politik ini penting agar masyarakat tidak hanya datang memilih saat pemilu, tetapi juga paham hak, kewajiban, dan mampu mengawal kebijakan publik secara kritis dan bertanggung jawab,” kata Samsun.
Ia menilai, penguatan demokrasi daerah harus dimulai dari meningkatnya kesadaran masyarakat di tingkat akar rumput. Apalagi, di tengah perkembangan Kalimantan Timur sebagai daerah penyangga Ibu Kota Nusantara, partisipasi publik yang cerdas dan berkualitas menjadi kebutuhan penting.
Samsun menegaskan, masyarakat yang melek politik akan lebih siap menghadapi dinamika demokrasi, termasuk dalam memilih pemimpin dan mengawasi jalannya kebijakan publik. Karena itu, pendidikan politik dinilai tidak cukup dilakukan menjelang pemilu saja, tetapi harus terus dibangun secara berkelanjutan.
Sementara itu, Komisioner KPU Kukar, Wiwin, menekankan bahwa pendidikan pemilih menjadi salah satu kunci untuk melahirkan pemilu yang berkualitas. Hal itu, kata dia, sangat penting terutama bagi pemilih pemula yang masih rentan dipengaruhi informasi yang keliru.
“Pemilih yang memiliki literasi politik yang baik tidak akan mudah dipengaruhi hoaks, politik uang, ataupun informasi yang menyesatkan. Karena itu, pendidikan pemilih harus terus diperkuat agar demokrasi berjalan lebih berkualitas,” ujar Wiwin.
Menurutnya, pemilih pemula tidak boleh hanya menjadi sasaran perebutan suara saat pemilu, tetapi harus dibangun menjadi warga yang sadar politik, kritis, dan aktif dalam kehidupan demokrasi. Ia juga menyebut, keterlibatan keluarga, sekolah, lembaga pendidikan, tokoh masyarakat, partai politik, hingga penyelenggara pemilu sangat dibutuhkan untuk menumbuhkan budaya demokrasi yang sehat.
Dalam kegiatan tersebut, peserta juga diingatkan bahwa tantangan demokrasi saat ini tidak hanya soal rendahnya partisipasi, tetapi juga maraknya hoaks, misinformasi, apatisme politik, dan masih minimnya pemahaman masyarakat terhadap fungsi lembaga politik.
Karena itu, kegiatan seperti ini diharapkan mampu mendorong lahirnya pemilih yang lebih cerdas, terutama dari kalangan generasi muda. Dengan pemahaman politik yang baik, masyarakat tidak hanya hadir di bilik suara, tetapi juga ikut menjaga kualitas demokrasi agar tetap sehat, partisipatif, dan bertanggung jawab. (Adv/De/Lsm)
© Copyrights by Notis.id. All Rights Reserved.